Beliant Bekelew dan Geratuq Jadi Penutup Sakral Festival Dahau 2025 Kutai Barat
Upacara Adat Penutup Festival Dahau 2025 (Ist)

Beliant Bekelew dan Geratuq Jadi Penutup Sakral Festival Dahau 2025 Kutai Barat

Oleh M. Nur • 07 November 2025

Advetorial DPRD Kutai Barat

Kutai barat — Rangkaian Festival Dahau 2025 sekaligus peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Kabupaten Kutai Barat ditutup secara sakral dengan dua ritual adat besar masyarakat Dayak Tunjung dan Benuaq, yakni Beliant Bekelew dan Geratuq, di Taman Budaya Sendawar, Jumat (7/11/2025).
 

Upacara adat yang berlangsung khidmat ini menjadi simbol rasa syukur dan pengingat akan pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan leluhur.

 

Bupati Kutai Barat, Frederick Edwin, dalam sambutannya mengatakan bahwa pelaksanaan dua ritual adat tersebut mencerminkan betapa kuatnya nilai-nilai budaya yang masih dipegang masyarakat Kutai Barat hingga kini. Menurutnya, adat istiadat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan juga fondasi moral dan spiritual bagi kehidupan sosial masyarakat modern.

 

“Adat adalah identitas dan kekuatan kita. Tradisi seperti Beliant Bekelew dan Geratuq harus terus dilestarikan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan budaya lokal di tengah arus modernisasi,” ujar Bupati.

 

Ia menegaskan, kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam menjaga nilai-nilai budaya yang menjadi ciri khas Kutai Barat.

 

“Pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya soal infrastruktur, tapi juga tentang memperkuat akar budaya. Kalau adat kuat, masyarakat juga akan tangguh,” tambahnya.

 

Sementara itu, Ketua Presidium Dewan Adat Kutai Barat, Yurang, menjelaskan bahwa Beliant Bekelew merupakan upacara adat penyucian dan tolak bala yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Dayak. Ritual ini telah berlangsung sejak akhir Oktober dan mencapai puncaknya dengan penyembelihan kerbau serta penanaman blontang — simbol pelindung wilayah dan keseimbangan alam.

 

“Beliant Bekelew adalah wujud doa bersama agar Kutai Barat senantiasa dilindungi, dijauhkan dari marabahaya, dan diberkahi dalam setiap langkah pembangunan,” jelas Yurang.

 

Sedangkan upacara Geratuq menjadi penutup dari seluruh rangkaian Dahau 2025. Prosesi ini ditandai dengan pembagian lalus atau upah adat kepada para pelaku ritual serta kegiatan tepung tawar sebagai lambang kesejahteraan dan kedamaian antarwarga.

 

Ketua Panitia Festival Dahau 2025 sekaligus Plt. Kadis Pariwisata Kutai Barat, FX Sumardi, menuturkan bahwa pelaksanaan ritual adat ini tidak hanya menjadi bentuk pelestarian budaya, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda agar memahami makna filosofis adat Dayak.

 

“Ritual ini mengajarkan kepada generasi muda bahwa adat bukan sekadar seremoni, melainkan pedoman moral dan jati diri masyarakat Kutai Barat,” ucapnya.

 

Festival Dahau 2025 tahun ini berlangsung semarak dan sukses menarik antusiasme warga dari seluruh kecamatan. Dari ritual adat, pertunjukan seni, hingga konser musik rakyat di Alun-Alun Itho, semuanya menjadi bukti nyata bahwa Kutai Barat mampu menjaga keseimbangan antara modernitas dan kearifan lokal di Bumi Tanaa Purai Ngeriman.

👁️ 275 kali dibaca

Tinggalkan Komentar

Memuat cuaca berdasarkan lokasi Anda...

Logo Portal